Wakil Gubernur Sulteng Reny Lamadjido Ajak TPID se-Sulteng Gerak Cepat Antisipasi Inflasi Jelang Idul Fitri

oleh -
oleh
IMG 20260226 WA0141
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulteng yang digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Palu, Kamis (26/2/2006). FOTO : TIM MEDIA PEMPROV SULTENG

PALU, WARTASULAWESI.COM – Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., mengajak seluruh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) kabupaten dan kota se-Sulawesi Tengah bergerak cepat dan mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi kenaikan inflasi jelang Idul Fitri 1447 Hijriah.

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) TPID se-Sulteng yang digelar secara hybrid di Gedung Pogombo, Palu, Kamis (26/2/2006).

Forum ini menjadi ruang konsolidasi daerah dalam merespons tren inflasi yang kembali meningkat di awal tahun 2026.

Wagub Reny menuturkan, inflasi Sulawesi Tengah pada Januari 2026 kembali bergerak naik setelah pada Desember 2025 berhasil ditekan hingga berada di level toleransi 3,5 persen. Kondisi ini dinilainya sebagai sinyal kuat bagi seluruh unsur TPID untuk memperkuat langkah pengendalian sejak dini.

Menurutnya, perubahan cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produksi pangan di Sulawesi Tengah.

Dampaknya, harga sejumlah komoditas volatile food seperti bawang, cabai, ikan laut, telur dan beras mengalami kenaikan.

Selain itu, ia juga menyoroti perilaku masyarakat yang cenderung memborong emas dalam beberapa waktu terakhir yang dinilai turut memberi tekanan terhadap inflasi daerah.

Menjelang libur Idul Fitri, Wagub Reny memprediksi akan terjadi kenaikan harga tiket transportasi serta peningkatan pola konsumsi masyarakat yang berpotensi memperbesar tekanan inflasi.

“Ayo kita cari tahu betul apa yang harus dilakukan supaya inflasi ini turun dan sehat kembali,” dorongnya kepada seluruh peserta Rakorda agar aktif memberikan saran dan masukan strategis.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Irfan Sukarna, menjelaskan bahwa dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan Sulawesi Tengah, tetapi juga sejumlah provinsi tetangga.

Kelangkaan stok pangan di daerah sekitar mendorong peningkatan permintaan pasokan dari Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah produsen terdekat.

Di sisi lain, periode libur panjang dan tradisi mudik diperkirakan akan memicu lonjakan kebutuhan di berbagai daerah.

Ia mengingatkan, tingginya arus keluar barang dari Sulawesi Tengah untuk memenuhi permintaan luar daerah berpotensi menimbulkan kelangkaan stok di dalam daerah yang kemudian diikuti kenaikan harga.

Karena itu, ia menekankan pentingnya langkah konkret dan terukur melalui penajaman implementasi framework 4K, yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

Langkah yang perlu diintensifkan antara lain sidak pasar, pelaksanaan pasar murah, optimalisasi neraca pangan, penguatan rantai distribusi serta perluasan kerja sama antar daerah guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, khususnya pada periode jelang hingga pasca-Idul Fitri.

Ia optimistis, dengan strategi yang tepat dan sinergi seluruh TPID, inflasi Sulawesi Tengah dapat kembali berada dalam ambang batas terkendali.

“Harapan kami saat bulan Maret, inflasi Sulawesi Tengah lebih melandai,” ujarnya optimis. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.