PALU, WARTASULAWESI.COM – Inovasi susu analog berbasis ikan penja dan daun kelor yang digagas tim InnoMilk Universitas Tadulako (Untad) berpeluang besar untuk diprodukai secara massal dalam membantu penurunan angka stunting di Sulawesi Tengah.
Berkat inovasi ini, tim InnoMilk dari Universitas Tadulako (Untad) berhasil meraih Juara 1 kategori Dampak Sosial Keberlanjutan di ajang bergengsi Innovillage 2024 yang diselenggarakan oleh Telkom University.
Ketua tim InnoMilk, Diva Avicenna, menyampaikan bahwa produk ini memanfaatkan potensi lokal khas Sulteng, dengan bahan utama berupa protein ikan penja dan kalsium dari daun kelor, yang dikombinasikan dengan bubuk kakao dan ekstrak daun stevia sebagai pelengkap rasa.
Kandungan gizi yang tinggi menjadikan produk ini efektif untuk meningkatkan asupan nutrisi anak-anak di daerah rawan stunting.
“Inovasi ini sudah siap untuk dikerjasamakan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, terutama Dinas Kesehatan, agar dapat dijadikan program penanggulangan stunting secara luas,” ungkap Diva Avicenna.
Meskipun saat ini masih dalam skala uji coba, biaya produksi per 20 gram bubuk susu mencapai Rp300.000–Rp500.000, disebabkan oleh penggunaan alat sewa laboratorium seperti freeze dryer atau oven vakum yang juga mahal.
Diva menegaskan, jika alat produksi dimiliki sendiri, biaya ini dapat ditekan sehingga produk bisa dijangkau oleh masyarakat luas.
Produk ini telah melewati berbagai uji laboratorium terkait kandungan protein, lemak, karbohidrat, mikroba, serta uji organoleptik (rasa) yang melibatkan 40 responden anak-anak.
Hasilnya, susu ini tidak hanya memenuhi standar gizi, tapi juga disukai karena varian rasa coklat yang disesuaikan dengan selera anak-anak.
“Kami siap mengembangkan produk ini ke skala lebih besar, jika ada dukungan dari pemerintah atau pihak swasta. Ini bisa menjadi program strategis untuk mengurangi angka stunting di Sulawesi Tengah,” tambah Diva.
Dengan inovasi berbasis potensi lokal dan teknologi sederhana, tim InnoMilk membuktikan bahwa solusi pencegahan stunting bisa dikembangkan dari kekayaan sumber daya daerah sendiri, sekaligus membuka peluang pemberdayaan masyarakat sekitar. ***
