JAKARTA, WARTASULAWESI.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menutup tahun buku 2025 dengan kinerja positif di tengah tantangan industri nikel global.
Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar secara hybrid pada Selasa (2/6/2026), para pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar US76 juta sepanjang tahun 2025.
Selain itu, pendapatan perusahaan juga tumbuh 4 persen menjadi US 228 juta. Kinerja tersebut menunjukkan ketahanan operasional PT Vale di tengah fluktuasi harga nikel dunia yang masih berlangsung.
Dividen yang dibagikan setara 60 persen dari laba bersih tahun buku 2025 dan akan diberikan kepada pemegang saham yang tercatat pada 12 Juni 2026, dengan jadwal pembayaran pada 26 Juni 2026. Sementara sisa laba bersih akan dibukukan sebagai laba ditahan untuk mendukung pengembangan bisnis dan proyek strategis perusahaan.
RUPST juga menyetujui sejumlah perubahan dalam jajaran Dewan Komisaris. Pemegang saham menerima pengunduran diri Emily Olson dari posisi Wakil Presiden Komisaris serta Christopher McCleave sebagai Komisaris.
Sebagai penggantinya, RUPST mengangkat Kristina Gauthier sebagai Wakil Presiden Komisaris, Patricia Renee Pegues sebagai Komisaris, dan Adam MacMillan sebagai Komisaris.
Manajemen menilai perubahan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan perusahaan agar lebih adaptif dalam menghadapi dinamika industri mineral kritis yang terus berkembang.
Rapat juga menyetujui pemberian kewenangan kepada Dewan Komisaris untuk menetapkan honorarium dan kebijakan remunerasi Dewan Komisaris serta Direksi untuk tahun buku 2026, setelah mendapatkan rekomendasi dari Komite Tata Kelola, Nominasi dan Remunerasi Perseroan.
Selain itu, pemegang saham menyetujui penunjukan Kantor Akuntan Publik Rintis, Jumadi, Rianto & Rekan, anggota jaringan PricewaterhouseCoopers (PwC), sebagai auditor independen untuk mengaudit laporan keuangan Perseroan tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2026.
Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa perusahaan mampu menjaga stabilitas operasional sekaligus memperkuat profitabilitas di tengah tantangan industri global.
“Dividen yang kami tetapkan hari ini dan kemajuan proyek-proyek HPAL kami mencerminkan keyakinan kami terhadap posisi jangka panjang Indonesia sebagai sumber nikel rendah karbon dan bertanggung jawab bagi transisi energi global,” ujar Bernardus.
Ia menegaskan PT Vale akan terus fokus pada praktik pertambangan berkelanjutan, pengembangan hilirisasi yang bertanggung jawab, serta penciptaan nilai jangka panjang bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan.
Dengan kinerja yang tetap solid dan proyek hilirisasi yang terus berjalan, PT Vale optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama industri nikel nasional yang mendukung agenda transisi energi dunia. ***





