Kementian ESDM Didorong Survei Potensi Helium di Sesar Palu-Koro, Dinilai Bisa Dukung Industri Teknologi Masa Depan

oleh -
oleh
IMG 20260801 WA0089
Pengamat Sumber Daya Alam (SDA), Andika. FOTO : IST

PALU, WARTASULAWESI.COM – Pengamat Sumber Daya Alam (SDA), Andika, mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) segera melakukan survei potensi gas helium di kawasan Sesar Palu-Koro dan Teluk Palu, Sulawesi Tengah.

Langkah itu dinilai penting untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan helium dunia yang kini menjadi komoditas strategis bagi industri teknologi tinggi.

Menurut Andika, selama ini Indonesia lebih banyak berfokus pada eksplorasi nikel, tembaga, emas, dan minyak serta gas bumi. Padahal, helium memiliki peran vital dalam industri semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), komputasi kuantum, teknologi ruang angkasa, kriogenik, hingga peralatan medis.

“Sudah saatnya Indonesia mulai memetakan potensi sumber daya helium. Dunia sedang memasuki era ketika helium menjadi salah satu komoditas yang sangat penting bagi industri teknologi tinggi,” ujarnya dalam siaran pers, Sabtu (1/8/2026).

Ia menjelaskan, secara geologi Sesar Palu-Koro merupakan salah satu sistem sesar aktif terbesar di Indonesia yang berpotensi menjadi jalur migrasi fluida dan gas dari kedalaman bumi. Berbagai penelitian internasional menyebutkan sistem sesar aktif dapat menjadi jalur migrasi gas mulia, termasuk helium.

Andika menambahkan, sejumlah penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi adanya migrasi gas di sepanjang sistem Sesar Palu-Koro. Kajian mengenai anomali gas radon sebagai prekursor gempa menunjukkan bahwa sesar tersebut berfungsi sebagai jalur keluarnya gas dari bawah permukaan.

Meski demikian, ia menegaskan hingga kini belum ada publikasi ilmiah yang membuktikan keberadaan cadangan helium komersial di kawasan Sesar Palu-Koro maupun Teluk Palu.

“Hingga saat ini memang belum terdapat publikasi ilmiah yang membuktikan adanya cadangan helium komersial. Karena itu, yang kami dorong bukanlah spekulasi, melainkan penelitian berbasis data agar Indonesia memiliki kepastian ilmiah mengenai potensi sumber daya tersebut,” tegasnya.

Untuk itu, Andika mengusulkan agar ESDM melalui Badan Geologi bekerja sama dengan BRIN, perguruan tinggi, serta mitra internasional melaksanakan survei geologi, geokimia, dan geofisika secara bertahap.

Tahapan survei tersebut meliputi pemetaan geologi rinci, pengukuran gas tanah, analisis isotop helium, pemetaan manifestasi gas alami, hingga pengeboran eksplorasi apabila hasil survei awal menunjukkan indikasi yang menjanjikan.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah menyusun Peta Jalan Eksplorasi Helium Nasional sebagai bagian dari strategi pengembangan sumber daya strategis.

Dalam konteks tersebut, Sesar Palu-Koro dan Teluk Palu dinilai layak menjadi proyek percontohan eksplorasi helium nasional karena memiliki karakter geologi yang unik dan kompleks.

“Indonesia tidak akan pernah mengetahui apakah memiliki sumber daya helium apabila tidak pernah mencarinya. Jika hasil survei tidak menunjukkan potensi ekonomi, kita tetap memperoleh data geologi yang sangat berharga. Namun apabila ditemukan indikasi helium, Indonesia berpeluang memiliki sumber daya strategis baru yang dapat mendukung industri berteknologi tinggi di masa depan,” pungkasnya. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.