Anggota DPRD Palu Andris Usukan Pelestarian Dokar di Palu Untuk Hidupkan Identitas Budaya Kaili

oleh -
oleh
WhatsApp Image 2025 10 22 at 20.46.32 1536x864 1
Suasana rapat paripirna di DPRD Palu. FOTO : IST

PALU, WARTASULAWESI.COM – Anggota Legislatif (Anleg) DPRD Kota Palu, Andris, mendorong upaya serius untuk menghidupkan kembali dokar, kendaraan tradisional masyarakat Kaili yang kini nyaris hilang dari jalanan Kota Palu.

Usulan itu ia sampaikan dalam reses hari kelima di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, belum lama ini.

Melalui inisiatif pribadi dan komunikasi langsung dengan Pemerintah Kota Palu, Andris mengusulkan pengadaan 5 unit dokar dan 6 ekor kuda untuk ditempatkan di sejumlah titik wisata dan kawasan budaya di Dapil I (Palu Selatan – Tatanga).

“Dokar ini bukan sekadar alat transportasi. Ini bagian dari identitas budaya kita. Sayang sekali kalau dibiarkan hilang begitu saja,” ujarnya di hadapan warga.

Sebagai putra asli Kaili yang dikenal dekat dengan tradisi kendaraan rakyat dan pacuan sapi, Andris mengaku prihatin melihat dokar kini hampir tidak terlihat lagi. Bahkan, sebagian dokar yang masih beroperasi justru berasal dari daerah lain seperti Gorontalo.

“Dulu di Kampung Tengah hampir setiap rumah punya dokar. Tapi sekarang benar-benar hilang. Saya pikir ini waktunya kita hidupkan lagi,” tambahnya.

Andris menegaskan bahwa pengadaan dokar dan kuda bukan berasal dari pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD, melainkan hasil pendekatan langsungnya kepada Pemkot Palu. Usulan itu disebutnya telah mendapat persetujuan prinsip dari pemerintah.

“Saya usulkan langsung ke Pemkot di luar Pokir. Nilainya sekitar Rp300 juta. Dokar dan kuda ini tetap akan menjadi aset milik pemerintah,” jelasnya.

Dokar yang diusulkan akan diintegrasikan dalam berbagai kegiatan wisata dan event tahunan Pemkot Palu seperti pawai budaya dan HUT Kota Palu. Andris mencontohkan keberhasilan andong di Yogyakarta yang menjadi magnet wisata.

“Di Jogja kita lihat bagaimana andong menjadi daya tarik. Palu juga bisa seperti itu, tinggal bagaimana mengelola dengan baik,” ujarnya.
Ia berharap dokar dapat kembali hadir dalam setiap perayaan kota, sehingga masyarakat tetap bisa melihat dan merasakan bagian dari sejarah budaya Kaili tersebut.

Menurut Andris, dokar justru lebih memberi manfaat sosial dibandingkan kuda pacu yang harganya bisa mencapai Rp80 juta per ekor.

“Kalau kuda pacu, yang bisa ikut hanya yang punya modal. Tapi kalau dokar, masyarakat bisa ikut mengelola, dan itu jauh lebih berdaya,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat dan pemerintah bersama-sama mendukung pelestarian dokar, sembari menekankan bahwa tantangan terbesar adalah perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin bergantung pada kendaraan bermotor.

“Sekarang tinggal bagaimana kita bangun kesadaran bersama. Saya yakin kalau dikelola serius, dokar punya masa depan lagi di Kota Palu,” tutupnya. ***