Akademisi Fakutas Teknik Untad Desak Pemprov Sulteng Bentuk Satgas Banjir

oleh -
oleh
Fakutas Teknik Untad
Diskusi Akademisi Fakultas Teknik Untad terkait masalah banjir di Sulteng. FOTO :IST

PALU, WARTASULAWESI.COM – Akademisi Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tengah (Sulteng) segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) penanganan banjir di Sulteng.

Desakan itu mencuat saat diskusi terbatas terkait banjir yang melanda beberapa wilayah di Sulteng seperti di Kabupaten Banggai, Tolitoli, Sigi, Kota Palu dan Parigi Moutong tepatnya di Desa Torue yang menelan korban jiwa 3 orang meninggal dan 4 belum ditemukan bertempat di ruang Senat Fakultas Teknik Untad, Senin (1/7/2022).

Diskusi ini menghadirkan narasumber yakni Guru Besar  Teknik Sipil sekaligus pengamat banjir Prof. Dr. Ir. H.M. Galib Ishak, M.S, Guru Besar Teknik Sipil Prof. Dr. Ir. I. Wayan Sutapa, M Eng, Dekan Fakultas Teknik Universitas Tadulako Dr. Eng. ir. Andi Rusdin, ST, MT,M.Sc,  Ketua KDK Keairan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Untad Dr. rer. nat. Sance Lipu, ST, M.Eng dan Kepala Laboratorium Hidrolika Jurusan Teknik Sipil Universitas Tadulako Dr.Alifi Yunar, ST,MT.

Sance lipu sebagai pembuka dalam diskusi terbatas tersebut menjelaskan, fenomena banjir yang melanda Kecamatan Lampasio di Kabupten Tolitoli, Kecamatan Torue di Kabupaten Parigi Moutong, Huntap Tondo di Kota Palu dan beberapa daerah di Sulteng diakibatkan oleh intensitas hujan yang tinggi, kemiringan lereng, struktur tanah yang jenuh dengan air pelimpasan  dan perubahan tata guna lahan.

Sementara Andi Rusdin sebagai Dekan Fakultas Teknik Untad mengungkapkan, Universitas Tadulako siap  memberikan masukan sesuai Tridarma Perguruan Tinggi, termasuk masalah banjir.

Beberapa akademisi sesuai keahlianya, siap memberikan konstribui bidang Hidrologi dan Hidrolika dengan leading sektor adalah Pemerintah Daerah (Pemda). Fakultas Teknik siap kerja sama dengan Pemda baik provinsi, maupun kabupaten dan Kota Palu untuk membantu mencari solusi.

Dalam pemaparan selanjutnya, Prof. Galib yang konsen penelitian tentang banjir di Sulteng menyampaikan, dari sisi aturan semua sudah terwadahi di Rencana Tata Ruang Baik RTURK Kota Palu dan RTRW Provinsi Sulawesi Tengah, Master Plan Drainase Kota Palu dan Perda tentang Sempadan Sungai, maka perlu dicari benang merahnya tentang perubahan tata guna lahan,  kewenangan perlu selektif tentang ijin penggunaan lahan dengan kewenangan termasuk penanganan sempadan sungai, serta bangunan baru harus dikendalian dan pemerintah lehih mengedukasi masyarakat berupa sosialisai tentang bangunan di sempadan sungai.

Galib Ishak yang juga Koordinator Program Studi Doktoral Teknik Sipil menjelaskan, karakteristik sungai yang berada di Kota Palu adalah sungai tadah hujan dengan ifiltrasi agak besar dengan lebar di hulu dan kecil di hilir.

“Olehnya, perlu penanganan dan rekayasa, karena ketika tiba waktu hujan dengan intensitas tinggi dan debit besar, maka mengakibatkan banjir seperti yang terjadi sekarang ini,” papar Galib.

Galib menyarankan kepada pemerintah, untuk segera membuat Satuan Tugas (Satgas) Banjir untuk mengantisipasi bencana banjir kedepannya dengan menintegrasikan kewenangan antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan Balai Wilayah Sungai Sulawesi Tengah, karena DAS Kota Palu meliputi Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parigi Moutong.

Dalam presfektif lain, Guru Besar Teknik Sipil I Wayan Sutapa menjelaskan, fenomena banjir ini terjadi bukanya hanya di Sulteng, tapi terjadi di seluruh dunia terutama di Sulteng akibat pemanasan global atau global warming sehingga  adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi.

“Kondisi sekarang tidak ada batas musim kemarau dan musi hujan, perubahan iklim menjadi tantangan akademisi di Fakultas Teknik untuk memberi solusi kepada pemerintah. Solusi menurukan emiisi karbon, sangat sederhana masyarakat harus gemar menanam dengan memanfaaatkan lahan yang tersedia,”katanya.

Sementara Alifi Yunar selaku kepala Laboratorium Hidrolika menyahuti beberapa pemikiran narasumber sebelumnya dengan mengajak dan memanfaatkan sumber daya  manusia yang ada terlibat langsung sebagai problem solving di dalam kegiatan riset dan berharap Fakultas Teknik menjadi rujukan dan solusi menghadapi banjir di Sulteng.

Khusus banjir di Huntap Tondo, akademisi Fakultas Teknik Untad ini siap menyiasati dengan dua  bidang  kegiatan penelitian  tekonologi yang paling tepat dengan topografi yang berada di Hutan Tondo yang cukup curam.

Riset-riset yang bisa di implementasikan oleh stakholder dan  mengkaji kembali road map tentang pencegahan banjir di Sulteng serta kegiatan pengabdian dengan kolaborasi dengan pemerintah daerah sebagai leading  sektor yang menangani huntap Tondo demi kenyamanan masyarakat di Sulteng. ***