PALU, WARTASULAWESI.COM – Tim pemeriksa lingkungan dari Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Tengah atau DLH Sulteng baru-baru ini turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengujian kualitas air dan udara di wilayah operasi PT Citra Palu Menerals (CPM) di Poboya khususnya di Sungai Pondo.
Pemeriksaan tim dari DLH Sulteng, dilakukan pada Rabu siang hingga sore (19/02/2025).
Hasil sementara menunjukkan bahwa kualitas air di sungai tersebut melebihi ambang batas yang ditentukan.
“Dari hasil uji yang dilakukan, ditemukan bahwa pH air di Sungai Pondo berada di atas standar yang ditetapkan, yakni berkisar antara 9,12 hingga 9,18. Padahal, persyaratan standar baku mutu menyatakan bahwa pH air yang aman berada dalam rentang 6 hingga 9,” ujar Sekretaris DLH Sulteng, Wahid Irawan yang ditemui di ruangannya, Kamis (20/02/2025).
Pihak perusahaan terkait, dalam hal ini CPM, mengklaim bahwa kondisi tersebut sudah ada sejak awal sebelum mereka beroperasi.
Namun, dalam dokumen lingkungan perusahaan, tidak ditemukan pencatatan rona awal yang seharusnya mencerminkan kondisi lingkungan sebelum aktivitas berlangsung.
Selain itu, parameter lain seperti suhu, total padatan tersuspensi (TSS), kebutuhan oksigen biologis (BOD), kebutuhan oksigen kimia (COD), serta kandungan zat lain seperti klorin bebas dan bakteri fekal coli masih menunggu hasil uji laboratorium yang diperkirakan keluar pada hari Senin atau Selasa mendatang.
Sementara itu, pengujian kualitas udara juga masih dalam tahap analisis. Tim pemeriksa telah mengambil sampel udara untuk mengukur kandungan sulfur dioksida (SO₂), karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), serta parameter lainnya seperti suhu udara, kecepatan angin, dan kelembaban.
Hasil sementara dari pengujian udara diharapkan dapat diketahui paling lambat besok atau lusa (Jumat atau Sabtu).
“Atas temuan ini, DLH Sulteng meminta pihak CPM untuk segera melakukan tindak lanjut, termasuk memperbarui dokumen lingkungan mereka dengan mencantumkan kondisi awal sungai sebelum mereka beroperasi,” kata Wahid Irawan.
Selain itu, pemasangan alat pemantauan kualitas air dan udara juga menjadi rekomendasi utama agar data yang lebih akurat dapat diperoleh secara berkala.
Wahid Irawan menyampaikan masyarakat sekitar Poboya masih menyampaikan berbagai tuntutan terkait dengan dampak lingkungan dari aktivitas perusahaan yakni PT CPM.
“Mereka meminta transparansi serta langkah konkret dalam menangani potensi pencemaran lingkungan yang dapat berdampak langsung pada kesehatan dan kehidupan sehari-hari mereka,” kata Wahid Irawan.
Mantan Kabag Persidangan DPRD Sulteng ini juga menyampaikan bahwa terkait penyataan GM External Affairs and Security PT CPM, Amran Amier yang menyatakan bahwa pemantauan udara Ambien dan pemantauan emisi yang dilakukan CPM dengan pihak laboratorium terakreditasi menunjukkan semuanya memenuhi buku mutu lingkungan, merupakan pengujian yang dilakukan sendiri.
“Kemarin kami ambil sampel kembali. Disitu baru bisa dilihat memenuhi buku mutu atau tidak. Hasil uji laboratorium udara yang kami lakukan baru bisa diketahui besok atau lusa,” tandas Wahid Irawan. ***






