OJK Dorong Penggunaan Kecerdasan Artifisial di Perbankan Secara Bertanggung Jawab

oleh -
oleh
IMG 20250430 WA0035
Peluncurkan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia sebagai panduan bagi industri perbankan dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) secara bertanggung jawab di Jakarta, Selasa (29/4/2025). FOTO : IST

JAKARTA, WARTASULAWESI.COM – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi meluncurkan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia sebagai panduan bagi industri perbankan dalam mengembangkan dan menerapkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) secara bertanggung jawab.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam peluncuran tersebut menyampaikan bahwa penggunaan AI akan memainkan peran penting dalam mempercepat transformasi digital sektor perbankan.

“AI diperkirakan akan terus berkembang tidak hanya pada peningkatan layanan nasabah, tetapi juga pada pengembangan produk, kepatuhan, manajemen risiko, dan pencegahan penipuan. Maka, tata kelola yang baik sangat diperlukan,” tegas Dian di Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Namun, penerapannya harus disertai dengan pengelolaan risiko yang menyeluruh mencakup seluruh siklus hidup kecerdasan artifisial (AI life cycle) dan siklus bisnis perbankan.

Hal ini bertujuan agar sistem AI dioperasikan secara etis, aman, sesuai regulasi dan mampu menjaga kepercayaan publik serta stabilitas sektor keuangan.

Dokumen panduan ini melengkapi sejumlah regulasi digital OJK sebelumnya, termasuk Cetak Biru Transformasi Digital Perbankan, POJK 11/2022 tentang Penyelenggaraan TI oleh Bank Umum, serta SEOJK terkait ketahanan siber dan maturitas digital bank.

Tata kelola ini juga mengacu pada praktik terbaik internasional, seperti AI Act Uni Eropa, panduan BCBS, serta benchmark negara-negara maju seperti AS, Tiongkok, Singapura, dan Jepang.

Di tingkat nasional, penyusunannya merujuk pada UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.

Dian mengingatkan bahwa daya saing bank saat ini dan ke depan akan sangat tergantung pada kemampuannya dalam mengelola teknologi dengan baik.

Ia mendorong bank melakukan langkah strategis, termasuk mempertimbangkan konsolidasi untuk memperkuat daya saing. ***