WARTASULAWESI.COM – Nama lengkapnya M. Sadly. Tapi di jagat WhatsApp dia lebih dikenal sebagai Boby Bebs. Atau cukup: Bebs.
Tanggal 28 Februari 2026, usianya genap 53 tahun. Setengah abad lebih tiga tahun. Usia di mana sebagian pria mulai akrab dengan asam urat, tensi naik-turun, dan diskon minyak kayu putih.
Tapi Bebs? Ia tetap klimis. Setelan rapi. Rambut tersisir penuh keyakinan. Langkah tegap seolah hidup ini panggung, dan dia pemeran utamanya.
Dan soal status? Masih jomblo.
Bukan karena tak laku—setidaknya begitu menurut pengakuannya. Katanya, justru terlalu diminati. Dunia belum siap menampung pesonanya sekaligus.
Magnet Grup WhatsApp
Ada fenomena menarik yang telah diteliti secara tidak ilmiah oleh warga grup:
Di grup mana pun Bebs bergabung—alumni, lingkungan, olahraga, bahkan grup yang tidak jelas dulu dibuat untuk apa—ujungnya selalu sama.
Topiknya: Bebs.
Statusnya dibahas. Fotonya dianalisis. Komentarnya dikutip ulang.
Dan tentu saja, kemunculannya yang khas:
“Assalamualaikum, izin menyimak.. Adakah.? Kodenya. Biludak. ustadz kapere. Gatot, haha.”
Kalimat pembuka yang membuat admin terdiam dan anggota grup mendadak aktif.
Ada yang menyebutnya karismatik.
Ada yang menyebutnya unik.
Ada pula yang memilih kata paling aman: “Beda.”
Manusia Langka: Gula 1006
Namun di balik gaya dan gemanya, ada satu bab hidup Bebs yang membuatnya naik level dari sekadar ikon grup menjadi legenda warkop.
Boby pernah “diserang” gula darah di angka 1006 mg/dL. Seribu enam.
Angka yang dalam dunia medis bisa bikin orang refleks istighfar.
Banyak yang kolaps di 600.
Sebagian panik di 400. Tapi Bebs. Dia selamat.
Dia bangkit.
Dia kembali.
Bukan hanya kembali berjalan, tapi kembali mengetik panjang di grup, memberi motivasi, membagikan semangat hidup, dan yang paling penting kembali nongkrong di warkop bersama rekan-rekan.
Sejak saat itu, ia bukan sekadar Boby Bebs.
Ia jadi manusia comeback.
Edisi spesial.
Manusia langkah yang sudah menapak di batas, lalu melangkah pulang dengan kepala tegak.
Warkop, Tawa, dan Gaya
Kini, menjelang usia 53, diskusi besar kembali bergulir.
Malam Minggu ultahnya di mana?
Siapa pesan kue?
Siapa baca doa?
Dan yang paling sensitif: siapa yang bayar?
Ada usul di pantai—biar sekalian tak perlu ember kalau tradisi “menyiram” jadi agenda.
Ada usul di halaman rumah—biar mudah bersih-bersih.
Ada pula yang nyeletuk,
“Di kolam renang saja. Sekalian terapi.”
Bebs?
Tenang. Tapi sedikit navulesa—gelisah tipis-tipis.
Sesekali ia membalas dengan emoji senyum misterius.
Seolah berkata,
“Tenang saja. Saya sudah biasa jadi pusat perhatian.”
Hidup Itu Soal Gaya.
Di usia 53, dengan riwayat gula 1006 yang tak semua orang bisa ceritakan sambil tertawa, dengan status single yang tetap ia sandang penuh percaya diri, dan reputasi sebagai trending topic level grup,
Bebs adalah bukti satu hal:
Hidup bukan soal usia.
Bukan soal angka di hasil lab.
Tapi soal bagaimana kau kembali duduk di warkop, menyeruput kopi, tertawa bersama kawan, dan tetap tampil rapi seolah dunia belum pernah menjatuhkanmu.
Dan kalau nanti benar ia disiram beramai-ramai di malam ulang tahunnya?
Percayalah.
Bebs Sadly tak pernah setengah-setengah.
Bahkan untuk basah-basahan pun,
ia siap jadi legenda lagi. ***
