Industri Jasa Keuangan Sulawesi Tengah Tumbuh Pesat, Kredit UMKM Capai Rp17,83 Triliun

oleh -
oleh
IMG 20250228 WA0325
Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra. FOTO : IST

PALU, WARTASULAWESI.COM – Industri Jasa Keuangan Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2024.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah menunjukkan sektor perbankan, pembiayaan, pasar modal, hingga layanan fintech mengalami perkembangan pesat, didorong oleh meningkatnya penyaluran kredit, edukasi keuangan, serta penguatan perlindungan konsumen.

Salah satu sektor yang mengalami lonjakan signifikan adalah kredit untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hingga 31 Desember 2024, total kredit yang disalurkan ke UMKM mencapai Rp17,83 triliun, tumbuh 12,71 persen secara year-on-year (yoy).

Kredit mikro mengalami pertumbuhan tertinggi, mencapai Rp9,04 triliun dengan peningkatan 16,49 persen dibanding tahun sebelumnya.

“Komitmen perbankan untuk terus mendorong UMKM tercermin dari peningkatan penyaluran kredit. Meskipun tumbuh signifikan, kualitas kredit masih terjaga dengan Non-Performing Loan (NPL) sebesar 2,50 persen, masih di bawah ambang batas 5 persen,” ujar Kepala OJK Sulteng, Bonny Hardi Putra dalam laporannya, Jumat (28/2/2025).

Perbankan Sulawesi Tengah Catat Aset Rp79,06 Triliun

Selain sektor UMKM, industri perbankan secara keseluruhan juga menunjukkan tren pertumbuhan yang kuat. Pada akhir 2024, total aset perbankan di Sulawesi Tengah mencapai Rp79,06 triliun, meningkat 19,14 persen dibanding tahun sebelumnya.

Penyaluran kredit tumbuh 20,92 persen (yoy) menjadi Rp61,05 triliun, sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp36,81 triliun atau tumbuh 12,88 persen. Kinerja intermediasi perbankan juga tetap tinggi dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 165,83 persen.

“LDR yang tinggi menunjukkan tingginya permintaan kredit di masyarakat, sementara rasio kredit bermasalah atau NPL tetap terkendali di angka 1,43 persen,” jelas OJK Sulteng.

Di sektor perbankan syariah, pertumbuhan juga terjadi dengan nilai aset mencapai Rp3,58 triliun atau meningkat 16,23 persen.

Penyaluran pembiayaan syariah tumbuh 15,13 persen menjadi Rp3,12 triliun, sementara penghimpunan DPK syariah naik 14,14 persen menjadi Rp2,18 triliun.

Fintech dan Pasar Modal Sulteng Berkembang Pesat

Sektor fintech peer-to-peer lending juga menunjukkan pertumbuhan luar biasa. Outstanding pinjaman fintech di Sulawesi Tengah tercatat Rp491,83 miliar, melonjak 68,22 persen dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah rekening penerima aktif pun meningkat menjadi 153.189 rekening, dengan tingkat wanprestasi (TWP 90) tetap terkendali di 1,38 persen.

Di sektor pasar modal, jumlah investor di Sulawesi Tengah juga mengalami lonjakan signifikan. Hingga akhir 2024, jumlah rekening investasi mencapai 150.660, meningkat 51,45 persen dibanding tahun sebelumnya.

Reksadana masih menjadi instrumen investasi favorit, dengan jumlah rekening mencapai 116.462 atau 77,30 persen dari total investor.
OJK Dorong Pengembangan Ekonomi Daerah

Selain memastikan stabilitas sektor keuangan, OJK Sulteng juga aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah mendukung pengembangan komoditas unggulan seperti durian dan kakao.

Pada 20 Februari 2025, OJK Sulteng menggelar rapat koordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Parigi, Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin), serta pelaku industri terkait. Mereka juga mengunjungi perusahaan ekspor durian dan perkebunan kakao untuk memetakan potensi pengembangan usaha dan akses pembiayaan.

“Dengan dukungan pembiayaan yang lebih luas, sektor perkebunan dan pertanian di Sulawesi Tengah diharapkan semakin berkembang dan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah,” kata OJK Sulteng.

Ke depan, OJK berkomitmen terus meningkatkan literasi keuangan masyarakat, memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, serta mengawal stabilitas sektor jasa keuangan agar terus tumbuh berkelanjutan. ***