Gubernur Anwar Hafid: Integrasi Budaya Kaili Adalah Kunci Pembangunan Sulteng

oleh -
oleh
IMG 20250719 WA0582 scaled
Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, menghadiri Kongres Posintomu Todea (Libu Mbaso) Adat Budaya Kaili yang digelar di Hotel Palu Golden, Sabtu (19/7/2025). FOTO : HUMAS PEMPROV SULTENG

PALU, WARTASULAWESI.COM – Gubernur Sulawesi Tengah, Dr. H. Anwar Hafid, M.Si, menyerukan pentingnya integrasi nilai-nilai budaya Kaili dalam pembangunan daerah.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri Kongres Posintomu Todea (Libu Mbaso) Adat Budaya Kaili yang digelar di Hotel Palu Golden, Sabtu (19/7/2025).

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Anwar Hafid dianugerahi gelar adat Tomaoge Tomanasa Ri Tanah Kaili oleh Forum Pemuda Kaili Bangkit (FPKB) sebagai bentuk penghormatan atas kepeduliannya terhadap budaya lokal.

Gubernur menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih atas penganugerahan tersebut.

“Mudah-mudahan ini menjadi penguatan bagi saya agar semakin kuat berdiri untuk melayani berbagai problematika masyarakat,” ucapnya.

Sebagai bentuk konkret kecintaannya terhadap budaya Kaili, Gubernur Anwar bahkan menciptakan dan menyanyikan dua lagu berbahasa Kaili berjudul Himo Yaku dan Vula Belo. Menurutnya, lagu-lagu tersebut adalah cerminan prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Dalam sambutannya, Gubernur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengangkat kembali nilai-nilai budaya dan kearifan lokal sebagai landasan pembangunan Sulawesi Tengah.

Gubernur menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup dengan infrastruktur semata, tetapi harus ditopang oleh kekuatan nilai-nilai lokal dan religiusitas yang tercermin dalam program unggulannya, BERANI Berkah.

Gubernur mencontohkan Jepang yang bangkit pasca-Perang Dunia II dengan menjadikan etika lokal Bushido sebagai landasan karakter bangsa.

Hal serupa, katanya, bisa dilakukan di Sulawesi Tengah dengan menjadikan nilai-nilai budaya Kaili sebagai perisai dari pengaruh negatif globalisasi.

“Nilai adat budaya ini sangat penting bagi kita semua,” tegasnya.

Gubernur juga menyoroti kearifan lokal masyarakat adat di Lindu, Kabupaten Sigi, yang masih memegang teguh hukum adat, terbukti dengan terjaganya kelestarian lingkungan kawasan Taman Nasional Lore Lindu berkat sanksi adat atau givu.

“Adat itu kalau dia tegak, lebih kuat dari aturan pemerintah,” ujarnya.

Sebagai bentuk dukungan nyata, Anwar Hafid mengungkapkan bahwa dalam RPJMD Provinsi Sulteng 2025–2029 telah diprogramkan bantuan rutin kepada lembaga-lembaga adat kabupaten/kota, termasuk untuk pemeliharaan rumah adat yang menjadi simbol budaya dan destinasi wisata.

“Pemberian bantuan tiap tahun supaya rumah-rumah adat kita beroperasi dan jadi kebanggaan masyarakat,” jelasnya.

Acara kongres tersebut juga dihadiri oleh Wakil Gubernur dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes, Ketua TP-PKK Sulteng Ny. Sry Nirwanti Bahasoan, serta sejumlah pejabat lingkup Pemprov Sulteng. ***