Air Bendungan Lambunu Keruh Diduga Akibat PETI, Petani Terancam Gagal Panen

oleh -
oleh
20250521 144009 scaled
Inilah kondisi air yang keruh mengalir melalui bendungan dan masuk ke lahan persawahan para petani. FOTO : IST

LAMBUNU, WARTASULAWESI.COM – Kondisi air di Bendungan Lambunu, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kian memprihatinkan.

Air yang menjadi sumber utama irigasi lahan pertanian warga kini terus-menerus keruh, meski tidak sedang turun hujan.

Dugaan utama mengarah pada aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang semakin marak di wilayah hulu Sungai dan pegunungan Lambunu.

Informasi yang diperoleh media menyebutkan, sedikitnya 10 alat berat dilaporkan beroperasi secara aktif di sejumlah titik, seperti Duyung, Panta Kapal, Gurintang, Cabang 2, Watalemo, dan Kuala Raja.

Ekscavator pun terlihat hilir-mudik menuju lokasi tambang.

Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, air keruh berdampak langsung pada hasil pertanian, terutama tanaman padi.

“Air masuk ke sawah dalam kondisi keruh, sehingga saat pemupukan, pupuk tidak bisa terserap dengan baik oleh tanaman. Hasilnya pun tidak maksimal,” keluhnya.
Warga itu menambahkan, perubahan kualitas air mulai dirasakan sejak beberapa tahun terakhir, seiring dengan maraknya aktivitas tambang.

Sebelumnya, air bendungan dikenal jernih dan hanya keruh saat hujan deras di hulu. Itu pun tidak bertahan lama.

Keluhan telah disampaikan secara resmi oleh warga, kelompok tani, pengurus IP3A, kepala UPTD dari Kecamatan Bolano dan Bolano Lambunu, serta pengamat pengairan DI Lambunu kepada pihak kecamatan dan kepolisian.

Respons kedua instansi tersebut dinilai cepat, namun hingga kini belum membuahkan hasil konkret.

“Mereka memang memanggil para penambang, tapi tidak satu pun dari mereka datang ke pertemuan,” ujar warga itu.

Warga kini berharap adanya langkah tegas dari pemerintah kabupaten hingga provinsi untuk menyelamatkan sumber air mereka dari pencemaran tambang ilegal.

“Kami hanya ingin air kembali jernih seperti dulu, agar pertanian kami bisa berjalan normal,” harapnya.

Masalah ini menjadi ironi di tengah program swasembada pangan yang terus digalakkan pemerintah.

Di saat berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan produksi beras nasional, kerusakan sumber daya air justru dibiarkan tanpa penanganan serius.

Jika tidak segera diselesaikan, kondisi ini dapat menggagalkan upaya menciptakan ketahanan pangan, bukan hanya di Parigi Moutong, tapi juga secara nasional. ***