PALU, WARTASULAWESI.COM – Pengurus Wilayah (PW) Asosiasi Pengusaha Kecil Menengah Mikro Nusantara (APIMSA) Sulawesi Tengah, resmi dikukuhkan dalam acara yang berlangsung di Hotel Aston Palu, Jumat malam (7/2/2025).
PW APIMSA Sulteng dinakhodai oleh Moh. Habil Masri, SH, dengan Mahful Haruna sebagai Wakil Ketua, dan Dwi Putra Ramadhan sebagai sekretaris serta sejumlah pengurus lainnya di berbagai bidang.
Ketua Umum APIMSA, Eem Marhamah Zulfa Hiz, dalam sambutannya menegaskan bahwa APIMSA didirikan untuk menjawab berbagai tantangan yang dihadapi pelaku UMKM, terutama dalam hal akses permodalan, pembinaan, dan pelatihan usaha.
“Banyak keluhan dari pelaku UMKM yang kesulitan mendapatkan akses modal, kurangnya pembinaan, serta minimnya pelatihan untuk meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, APIMSA hadir sebagai wadah untuk membangun bersama agar UMKM bisa bangkit, bertahan, dan berkembang,” ungkapnya.
Eem menegaskan bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia, dengan kontribusi sebesar 61% terhadap PDB nasional, atau setara Rp9.000 triliun per tahun, yang bahkan tiga kali lipat lebih besar dari APBN Indonesia.
Selain itu, sektor ini juga menyerap 97% tenaga kerja, menjadikannya solusi utama dalam menghadapi meningkatnya angka pengangguran di tengah tekanan ekonomi global.
“UMKM lebih tangguh dibandingkan usaha besar karena perputaran ekonominya tetap berada di dalam negeri. Pelaku UMKM membeli bahan baku secara lokal, menjual produknya di dalam negeri, dan menggunakan keuntungannya untuk kebutuhan domestik. Inilah yang membuat UMKM menjadi sektor paling stabil dalam berbagai kondisi ekonomi,” tambahnya.
Ketua PW APIMSA Sulteng, Moh. Habil Masri, SH, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat sekitar 36.000 UMKM di Sulawesi Tengah, yang menyerap 137.000 tenaga kerja. Namun, mayoritas pelaku usaha masih berada dalam kategori mikro dengan keterbatasan modal.
“Kami menyadari bahwa tidak ada cara lain agar UMKM bisa tumbuh dan berkembang selain bersatu dalam satu asosiasi. Melalui APIMSA, kami berharap dapat membuka akses permodalan dan jaringan bisnis bagi para pengusaha kecil di Sulawesi Tengah,” ujar Habil Masri.
Habil juga menekankan bahwa salah satu kendala utama yang dihadapi pelaku UMKM adalah kesulitan mendapatkan modal dari perbankan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki jaminan atau aset yang cukup. Oleh karena itu, ia berharap kehadiran APIMSA dapat menjadi jembatan bagi para pengusaha mikro agar lebih mudah mengakses pembiayaan yang dibutuhkan.
“Banyak pelaku usaha mikro yang memiliki potensi besar, namun mereka sulit berkembang karena terkendala modal. Kami berharap APIMSA bisa menjadi wadah yang memperjuangkan hak-hak pelaku UMKM, termasuk mendapatkan akses perbankan yang lebih mudah dan terjangkau,” tegasnya.
Selain akses modal, Habil juga berharap APIMSA dapat membangun jaringan usaha yang kuat, di mana para anggotanya bisa saling berbagi pengalaman, peluang bisnis, serta membentuk ekosistem UMKM yang lebih solid.
“Dengan adanya asosiasi ini, kami ingin menciptakan jaringan usaha yang saling menguatkan, bukan hanya di Sulawesi Tengah, tetapi juga dengan daerah lain di Indonesia. Sehingga UMKM di daerah ini bisa lebih kompetitif dan berkembang lebih cepat,” tambahnya.
APIMSA juga bertujuan untuk mendorong kemandirian ekonomi berbasis UMKM sebagai solusi atas digitalisasi dan efisiensi industri yang semakin mengurangi kebutuhan tenaga kerja di sektor formal.
Dengan semakin banyaknya perusahaan yang melakukan pemutusan hubungan kerja akibat perkembangan teknologi, UMKM menjadi pilihan utama agar masyarakat tetap memiliki penghasilan dan daya saing ekonomi.
Acara pengukuhan ini menjadi momentum penting dalam penguatan ekosistem UMKM di Sulawesi Tengah, dengan harapan bahwa APIMSA dapat menjadi wadah bagi pengusaha mikro, kecil, dan menengah untuk lebih mandiri dan berdaya saing. ***






