SOROWAKO, WARTASULAWESI.COM – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat pertumbuhan produksi nikel matte sebesar 1% pada tahun 2024, dengan total output mencapai 71.311 metrik ton.
Sementara itu, volume penjualan meningkat 2% menjadi 72.625 metrik ton, yang berkontribusi pada kenaikan laba bersih perusahaan hingga USD 57,8 juta.
Keberhasilan ini didukung oleh efisiensi operasional dan strategi ekspansi yang terus berjalan.
CEO dan Presiden Direktur PT Vale, Febriany Eddy, menyebut tahun 2024 sebagai periode penuh pencapaian dan tantangan. Salah satu pencapaian utama adalah penyelesaian proses divestasi yang memperkuat posisi perusahaan di industri nikel nasional.
Selain itu, perpanjangan izin operasional menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) tanpa pelepasan lahan menegaskan kepercayaan pemerintah terhadap PT Vale.
“Kami terus berkomitmen untuk menjalankan praktik pertambangan berkelanjutan yang sejalan dengan visi pemerintah dalam mengembangkan industri nikel di Indonesia,” ujar Febriany Eddy.
Dari sisi produksi, PT Vale mencatat output sebesar 71.311 metrik ton nikel matte pada 2024, melampaui target tahunan yang ditetapkan sebesar 70.805 metrik ton.
Penjualan nikel matte juga tumbuh 2% secara tahunan, mencapai 72.625 metrik ton. Peningkatan ini berdampak positif terhadap EBITDA perusahaan yang mencapai USD 225,9 juta sepanjang 2024.
Meskipun menghadapi tantangan akibat proses pemisahan dari Vale Base Metal pasca divestasi, PT Vale berhasil menekan biaya produksi hingga USD 9.374 per ton, yang merupakan level terendah dalam tiga tahun terakhir. Perusahaan juga mencatat laba bersih sebesar USD 57,8 juta sepanjang 2024.
Dari segi keberlanjutan, PT Vale meraih peningkatan peringkat risiko ESG dari Sustainalytics ke kategori sedang, menjadikannya satu-satunya perusahaan tambang nikel Indonesia dalam kelompok ini. Selain itu, PT Vale juga memperoleh penghargaan PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atas komitmennya terhadap pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab.
Untuk ke depan, PT Vale akan melanjutkan proyek strategis seperti pengembangan tambang di Pomalaa, Bahodopi, dan Morowali, serta proyek HPAL Sambalagi dengan investasi sebesar USD 1,4 miliar.
Perusahaan juga menargetkan standar IRMA50 untuk penambangan yang lebih berkelanjutan.
Dengan fundamental keuangan yang kuat dan strategi ekspansi yang berjalan baik, PT Vale optimis menghadapi tahun 2025 dengan target pertumbuhan yang lebih tinggi. ***






