Pendidikan Berkarakter Kunci Hadapi Krisis Lingkungan

oleh -
oleh
IMG 20260508 WA0090 scaled
Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Hadapi Tantangan Lingkungan Melalui Pendidikan yang Berkarakter dan Berkelanjutan”, Rabu malam (06/05/2026). FOTO : IST

PALU, WARTASULAWESI.COM – Organisasi Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS-ADI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Hadapi Tantangan Lingkungan Melalui Pendidikan Berkarakter dan Berkelanjutan”, Rabu malam (06/05/2026).

Diskusi yang berlangsung pukul 20.00 WITA itu menghadirkan tiga narasumber, yakni Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu Ibnu Mundzir, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Datokarama Palu Prof. Dr. H. Saepudin Mashuri, S.Ag., M.Pd.I, serta Dewan Pendiri LS-ADI Muhammad Sadig, M.A., Hum.

Dalam pemaparannya, Prof. Saepudin Mashuri menegaskan pentingnya pendidikan berbasis kesadaran ekologis sejak usia dini.

Menurutnya, sekolah harus menjadi ruang pembentukan karakter peduli lingkungan agar kebiasaan menjaga alam dapat tertanam sejak kecil.

“Inilah yang kemudian perlu kita edukasi menghadirkan bagaimana pendidikan yang bisa membangun kesadaran praktik ekologis di sekolah sehingga anak-anak kita dari anak kecil bisa melakukan itu,” ujarnya.

Ia juga menilai upaya mengatasi krisis lingkungan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah hingga lembaga pendidikan.

Menurutnya, program seperti masjid hijau, sekolah hijau, pasar hijau hingga kota hijau dapat menjadi gerakan bersama dalam membangun budaya ramah lingkungan.

“Kalau semua hadir, pemerintah melalui pekerjaannya hadir, penganggarannya hadir, teknologi lingkungannya hadir, SDM hadir dan program itu masuk dari bahagian pemerintah pendidikan secara masif, krisis lingkungan itu bisa kita turunkan,” jelasnya.

Sementara itu, Dewan Pendiri LS-ADI Muhammad Sadig menyoroti persoalan pengelolaan sampah yang menurutnya masih menjadi tantangan serius di tengah masyarakat.

Ia mengatakan persoalan utama bukan terletak pada sampah, melainkan cara pandang manusia terhadap nilai dari sampah tersebut.

“Sampah itu tidak bernilai. Tapi bagaimana kau berubah sehingga dia jadi bernilai,” katanya.

Sadig juga mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa, agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan inovasi yang membuka lapangan pekerjaan, termasuk di sektor pengelolaan lingkungan.

“Padahal dipertontonkan dengan pemanasan dunia, krismon, Elnino, segala hal yang dipertontonkan sama kita. Tapi kita tidak memiliki kesadaran,” ungkapnya.

Di sisi lain, Sekretaris DLH Kota Palu Ibnu Mundzir menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya alam tetap harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Menurutnya, alam memiliki kemampuan melakukan pemulihan, namun manusia tetap wajib menjaga keseimbangan agar kerusakan tidak semakin meluas.

“Kalau dalam konsep ilmu lingkungan semua sesuatu itu bisa dieksplorasi yang penting tidak melewati dua hal, tidak melewati daya tampung, tidak melewati daya dukung. Alam punya kemampuan merecovery,” jelasnya.

Ibnu juga mengajak peserta memahami dampak penggunaan bahan kimia terhadap lingkungan dan kesehatan manusia melalui buku Silent Spring, yang membahas masuknya zat kimia ke rantai makanan.

“Buku Silent Spring itu menggambarkan tentang bagaimana yang namanya herbicide masuk ke dalam rantai makanan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa persoalan lingkungan juga berkaitan erat dengan nilai-nilai agama dan ilmu pengetahuan yang mengatur keseimbangan hidup manusia dengan alam.

“Manusia boleh memanfaatkan alam, tetapi tetap ada batas-batas yang harus dijaga,” tandasnya. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.