Misteri Kematian Jurnalis Situr Wijaya: Tiga Rekan Almarhum Rupanya Juga Meninggal Mendadak, Apakah Ada Kaitannya..?

oleh -
oleh
IMG 20250407 WA0016
Almarhum Situr Wijaya. FOTO : IST

PALU, WARTASULAWESI.COM – Misteri kematian Jurnalis Situr Wijaya (SW) yang jenazahnya ditemukan di kamar Hotel D’Paragon, Kebon Jeruk, Jakarta, pada Jumat (4/4/2025) lalu, kini masih terus ditelusuri dan mendapat atensi dari sejumlah pihak.

Saat jenazah almarhum SW ditemukan, terlihat dari foto-foto yang diterima keluarga memperlihatkan adanya lebam di wajah.

Selain itu, terlihat juga pori-pori di tengah jidat membesar, yang diduga mengalami bengkak akibat benturan benda tumpul.

Kematian SW banyak mengundang tanya. Hal ini karena sejumlah kejanggalan yang terlihat saat jenazah almarhum ditemukan.

Apakah kematian almarhum Situr Wijaya yang selama ini dikenal sebagai jurnalis kritis ada kaitanya dengan profesinya dan juga kematian tiga rekannya yang juga telah meninggal sebelumnya..?

Hal ini patut diungkap, karena informasi yang dihimpun media ini menyebutkan, jurnalis SW dalam dua tahun terakhir aktif melakukan pendampingan non litigasi terhadap masyarakat yang tengah mengalami konflik agraria atau sengketa lahan di Kabupaten Morowali Utara (Morut) Provinsi Sulawesi Tengah.

Pendampingan tersebut dilakukan almarhum SW bersama beberapa aktivis LSM dan praktisi hukum dalam bentuk advokasi non litigasi dengan melakukan pelaporan ke sejumlah pihak, termasuk ke Kementerian di Jakarta.

Tiga rekan SW yang sebelumnya sama-sama melakukan pendampingan, rupanya dikabarkan juga telah meninggal dunia (MD) mendadak sebelum SW.

1. Inisial AL Meninggal di Jakarta

Almarhum inisial AL dikabarkan meninggal dunia secara mendadak di hotel saat akan melakukan perjalanan dari Jakarta ke Surabaya.

Dilaporkan, AL yang asal Tojo Unauna ini meninggal dunia karena serangan jantung pada 29 Oktober 2024 dan dimakamkan kampung halaman istrinya di Lampung.

Dalam pendampingan kasus sengketa lahan di Kabupten Morut itu, almarhum AL yang juga berlatar belakang jurnalis ini disebutkan menjadi mitra jurnalis SW untuk menjadi narahubung di Jakarta dalam upaya advokasi non litigasi, karena AL sudah lama berdomisli di Jakarta.

Kepada salah satu rekannya, almarhum SW sempat menyebutkan bahwa kematian memdadak AL sangat mencurigakan.

“Waktu dapat kabar AL meninggal mendadak, almarhum Situr pernah bilang bahwa kematian AL ini mencurigakan,” sebut salah satu teman dekat SW yang berinisial DY.

2. Inisial TM

Almarhum TM juga dilaporkan meninggal mendadak dan disebut-sebut terkena serangan jantung.

Almarhum TM disebut-sebut tergabung dalam salah satu LSM yang turut mengadvokasi konflik lahan bersama almarhum jurnalis SW.

3. Inisial HH

Almarhum HH juga dikabarkan meninggal dunia sekira satu bulan sebelum kematian TM.

Meski belum terkonfirmasi secara pasti, dalam kasus pendampingan konflik lahan bersama SW, almarhum HH disebut-sebut beberapa kali membantu pembiayaan keberangkatan almarhum SW ke Jakarta untuk melaporkan kasus sengketa lahan di Morowali Utara itu.

Informasi diperoleh setelah kematian almarhum SW, HH sempat 2 kali mengirimkan dana yang diduga untuk keberangkatan ke Jakarta.

Salah satu rekan SW inisial HR mengaku sempat diperlihatkan nominal dana yang masuk dari dari HH. Sayangnya HR mengaku lupa nominal pastinya.

“Pastinya saya lupa nominalnya, yang jelas waktu di atas Rp100 juta,” sebut HR beberapa hari lalu.

Diduga, keberangkatan SW ke Jakarta sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia di kamar Hotel D’Paragon pada Jumat (4/4/2025), selain untuk mudik menjenguk ibu di Jogyakarta, ia juga akan membawa laporan ke Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kementerian ATR/BPN terkait sengketa lahan di Morut itu.

“Katanya dia mau menjenguk ibunya dulu di Jawa, setelah itu ada urusan di Jakarta,” istri almarhum SW, Selviyanti yang ditemui di Palu, Jumat 11 April 2025.

Anehnya kata Selviyanti, selama ini jika hanya transit di Jakarta, almarhum pasti menginap di hotel atau penginapan yang tidak jauh dari bandara atau terminal akan jika ke Jawa via darat.

Lantas, mungkinkah ada pihak yang mengarahkan SW untuk menginap di Hotel D’Paragon yang berlokasi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu?

Hingga saat ini, polisi masih menunggu hasil lengkap dari pemeriksaan toksikologi dan histopatologi untuk memastikan penyebab kematian secara menyeluruh.

Lalu, apakah kejanggalan kondisi jenazah almarhum Situr Wijaya yang lebam-lebam diduga akibat kekerasan hingga menjadikannya korban pembunuhan?

Apakah kematian ketiganya ada kaitan dengan pekerjaan mereka dalam advokasi agraria? Jawaban atas pertanyaan ini akan menjadi kunci dalam mengungkap fakta sebenarnya. Wallahu a’lam bishawab. ***

No More Posts Available.

No more pages to load.