Ketua DPD PDIP Sulteng Muharram Nurdin: Jangan Biarkan Kata Perjuangan Hanya Jadi Hiasan Spanduk

oleh -
oleh
IMG 20251113 WA0084
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Sulawesi Tengah, H. Muharram Nurdin, menyampaikan sambutan pada pembukaan Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDIP se-Sulteng yang digelar di Asrama Haji Palu, Kamis (13/10/2025). FOTO : WARTASULAWESI.COM

PALU, WARTASULAWESI.COM – Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan Sulawesi Tengah, H. Muharram Nurdin, menyampaikan pidato yang menggugah dalam pembukaan Konferensi Daerah (Konferda) dan Konferensi Cabang (Konfercab) PDIP se-Sulteng yang digelar di Asrama Haji Palu, Kamis (13/10/2025).

Dalam sambutannya, Muharram mengajak seluruh kader untuk kembali meneladani semangat perjuangan ideologis partai sebagaimana diwariskan oleh Bung Karno dan diteruskan oleh Megawati Soekarnoputri.

Muharram menegaskan bahwa “kata Perjuangan” yang melekat pada nama partai tidak boleh kehilangan maknanya.

“Saya sering bertanya dalam hati, apakah kata Perjuangan itu masih hidup di nadi kita? Atau hanya sekadar menjadi hiasan spanduk, baliho, dan kop surat partai?” ujar Muharram, disambut riuh tepuk tangan para peserta konferensi.

Muharram menyoroti gejala menurunnya semangat gotong royong di kalangan kader. Ia menilai, sebagian kader kini lebih mementingkan gaya hidup dan kenyamanan pribadi dibandingkan kerja nyata untuk rakyat.

“Dulu partai ini hidup dari posko kecil, lahir dari kejujuran dan integritas. Kini ada kader yang mulai enggan bergotong royong, bahkan mengeluh ketika diminta membantu kegiatan partai,” ujarnya.

Politisi PDIP senior ini juga mengingatkan adanya bahaya “penyakit dalam partai”, yakni sikap pragmatis yang menjauh dari nilai-nilai ideologi Bung Karno.

Menurutnya, kader sejati bukanlah mereka yang pandai menghafal jargon revolusi, tetapi yang mengamalkan semangat kerakyatan dalam tindakan nyata.

“Ada yang hafal kalimat Bung Karno, tapi lupa jiwa Bung Karno. Ada yang bicara revolusi, tapi tangannya sibuk menghitung proyek. Ini penyakit yang harus kita sembuhkan bersama,” tegasnya.

Muharram kemudian mengulas kembali semangat kelahiran PDI Perjuangan yang tumbuh dari tekanan dan rekayasa politik Orde Baru. Ia mengingatkan bahwa Wisma Haji Palu, tempat berlangsungnya konferensi kali ini, memiliki makna historis tersendiri.

“Jejak rekayasa politik Orde Baru terhadap kehidupan partai justru menemui ajalnya di tempat ini, Wisma Haji, 27 tahun yang lalu. Dari tempat ini pula, kita menegaskan kembali tekad bahwa partai ini lahir dari perlawanan dan keberanian,” katanya.

Menutup sambutannya, Muharram menegaskan kembali pentingnya menghidupkan kembali konsep Partai Pelopor sebagaimana digagas Bung Karno yakni partai yang berjiwa, berdisiplin ideologis, dan menjadi penggerak moral rakyat.

“Politik bagi Soekarno bukan semata soal kekuasaan, tetapi tentang menuntun arah perubahan sosial bangsa. Jika kita melupakan itu, maka kata Perjuangan hanya akan tinggal sebagai merek dagang, bukan semangat hidup,” tutupnya. ***