BANGGAI, WARTASULAWESI.COM – Industri kelapa sawit masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah di Sulawesi Tengah.
Di balik geliat sektor strategis ini, kiprah PT Kurnia Luwuk Sejati di Sulawesi Tengah tercatat konsisten memberikan kontribusi nyata, baik melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga sumbangan signifikan terhadap penerimaan negara dan daerah.
Perusahaan yang kini dikenal sebagai PT Kurnia Luwuk Sejati (PT KLS) ini memulai perjalanannya sejak 1984 dengan nama PT Kurnia.
Setahun berselang, tepatnya pada 1985, perusahaan resmi berganti nama menjadi PT Kurnia Luwuk Sejati. Seiring berjalannya waktu, aktivitas bisnis PT Kurnia Luwuk Sejati terus berkembang, mengikuti dinamika industri sawit nasional.
Langkah besar perusahaan dimulai pada 2001 dengan pendirian Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Desa Toili, Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai. Sejak itu, ekspansi dilakukan secara bertahap. Pada 2003, kapasitas produksi meningkat menjadi 30 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam, disertai pembangunan dermaga berkapasitas 5.000 metrik ton.
Empat tahun kemudian, pada 2007, kapasitas PKS kembali ditingkatkan menjadi 60 ton TBS per jam, menandai fase akselerasi bisnis perusahaan.
Sebagai entitas yang bergerak di sektor perkebunan sawit, peran strategis PT Kurnia Luwuk Sejati juga tercermin dari kontribusinya terhadap penerimaan pajak.
Data yang dihimpun media ini menunjukkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2025, realisasi pembayaran pajak perusahaan yang didirikan almarhum H. Murad Husain tersebut mencapai Rp50,78 miliar.
Rinciannya, pajak ke daerah tercatat sebesar Rp529,05 juta yang meliputi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Pemanfaatan Air Permukaan, serta Pajak Kendaraan Bermotor.
Sementara itu, setoran pajak ke negara mencapai Rp50,25 miliar, mencakup PBB HGU, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), PPh Pasal 25/29 Badan, serta PPh Pasal 21.
Dalam rentang lima tahun terakhir, kontribusi PT Kurnia Luwuk Sejati di Sulawesi Tengah melalui pajak daerah tercatat sebesar Rp4,51 miliar, sedangkan kontribusi ke negara menembus Rp284,46 miliar.
Nilai ini turut berdampak pada Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit yang perhitungannya mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2023, memperkuat kapasitas fiskal daerah. Tak hanya soal pajak, dampak ekonomi PT Kurnia Luwuk Sejati juga terasa langsung di masyarakat.
Sebagai perusahaan padat karya, PT KLS menjadi salah satu penggerak ekonomi di wilayah Moilong, Toili, Toili Barat, hingga Luwuk Timur.
Perputaran uang di kawasan ini diperkirakan mencapai Rp310 miliar per tahun atau lebih dari Rp25 miliar per bulan.
Angka tersebut berasal dari pembayaran TBS petani plasma, upah tukang panen, serta gaji ribuan karyawan yang terlibat dalam rantai bisnis perusahaan. Kondisi ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang memperkuat aktivitas ekonomi lokal, mulai dari perdagangan hingga jasa.
Sebelumnya, Direktur PT KLS Sulianti Murad bersama Asisten Direktur Ferdinand Magaline menegaskan bahwa operasional perusahaan dijalankan dengan orientasi mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Dalam keterangan tertulis, manajemen menjelaskan bahwa PT KLS beroperasi di Kabupaten Morowali Utara, tepatnya di Kecamatan Mamosalato dan Kecamatan Bungku Utara.
Di wilayah tersebut, perusahaan telah membangun kebun plasma untuk masyarakat seluas 1.934 hektare di Kecamatan Mamosalato dan 913 hektare di Kecamatan Bungku Utara.
Program ini menjadi bagian dari tanggung jawab sosial PT Kurnia Luwuk Sejati dalam memperkuat ekonomi berbasis kemitraan.
“Dampak ekonomi yang paling terasa adalah peningkatan pendapatan masyarakat melalui hasil TBS yang dibeli oleh PT KLS,” tulis manajemen.
Rata-rata pembelian TBS dari masyarakat mencapai Rp5 miliar per bulan dan dibayarkan secara tunai melalui perbankan, menciptakan kepastian arus kas bagi petani.
Komitmen sosial perusahaan juga diwujudkan melalui pembangunan rumah ibadah berupa masjid, pemberian CSR kebun kelapa sawit untuk pondok pesantren, hingga program lingkungan.
Salah satu inisiatif terbaru adalah pengembangan penangkaran burung maleo di Batui, sebagai upaya menjaga kelestarian satwa endemik Sulawesi sekaligus memberdayakan masyarakat sekitar.
Dengan rekam jejak investasi, kontribusi fiskal, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan, kiprah PT Kurnia Luwuk Sejati di Sulawesi Tengah menegaskan posisi perusahaan sebagai salah satu aktor penting dalam industri sawit regional.
Di tengah tantangan global sektor perkebunan, peran strategis perusahaan ini menjadi contoh bagaimana bisnis sawit dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi dan sosial daerah. (Adv)






