Sebuah catatan kecil buat si pemecah belah anak bangsa si dungu Fuad plered dari seorang Guru dan kepala Madrasah Diniyah Awwaliyah Alkhairaat kelurahan Tatura selatan /ketua Pengurus Pusat (IKAAL) ikatan Alumni Abna Alkhairaat periode 2023-2028
Oleh : Abdul Haris Abdullah, S.Thi
Gus Fuad Plered, kalau kau kurang literasi dan kurang piknik, maka sebaiknya jaga mulut dan sikapmu.
Ini pernyataan kami pencinta guru tua dan alkhairaat.
Sayyid Idrus bin Salim Aljufri (guru tua) Sejak mendirikan alkhairaat pada tahun 1930 memfokuskan perhatiannya pada gerakan pendidikan, sosial, dan dakwah.
Gerakan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ini mengundang perhatian sekaligus kecurigaan pemerintah Hindia Belanda, sehingga pemerintah Hindia Belanda melakukan upaya untuk menghambat gerakan yang dilakukan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aljufri.
Puncaknya pada tahun 1933 masehi pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan yang isinya kewajiban siswa-siswa Alkhairaat untuk membayar pajak kepada pemerintah kolonial.
Begitu SK dikeluarkan dan sesudah diinformasikan kepada siswa-siswa Alkhairaat, mereka segera menyambut SK itu dengan spontan siswa – siswa yang berjumlah ratusan orang itu melakukan demonstrasi ke kantor pajak menuntut pembatalan SK tersebut.
Tidak ayal lagi, pemerintah kolonial langsung membatalkan SK tersebut karena khawatir demonstrasi akan meluas.
Pada tahun 1939 pemerintah kolonial Hindia Belanda secara mendadak mengirimkan inspektur pendidikan dan pengajaran pemerintah penjajah ke Palu untuk menginspeksi kurikulum di perguruan alkhairaat.
Setelah peristiwa tersebut, pengawasan terhadap Alkhairaat lebih diperketat karena beberapa orang dari jebolan pendidikan Alkhairaat menjadi anggota dan pengurus organisasi syarikat Islam di Sulawesi Tengah.
Pemerintah kolonial Belanda sangat takut pada gerakan ini karena tujuan utama dari pergerakan ini adalah menuntut kemerdekaan Indonesia.
Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda berusaha dengan berbagai cara untuk terus menghambat pergerakan Alkhairaat.
Pada tahun 1939 pemerintah Kolonial Belanda menangkap beberapa orang murid-murid said Idrus bin Salim Aljufri yang terlibat dalam pergerakan perlawanan terhadap Belanda.
Selain itu, pemerintah kolonial menganggap pergerakan Habib Idrus ini sebagai ancaman karena dalam jangka waktu yg sangat singkat berhasil membangun pengaruh tidak hanya di Kota Palu dan Donggala, tapi semakin meluas hingga ke pelosok desa – desa di Parigi, Poso, Ampana Tinombo, Moutong., Luwuk, Banggai, hingga Gorontalo, Manado dan Ternate untuk kawasan timur hingga meliputi Kalimantan.(Sayyid Idrus bin Salim al-jufri pendiri alkhairaat kontribusi nya dalam pembinaan umat, 2014 Masehi)
Pada tanggal 8 Desember 1941 masehi pecah perang Pasifik sehingga pada tanggal 11 Januari 1942 masehi, Jepang menduduki Manado dan menjadikannya pangkalan angkatan laut Jepang di kawasan Indonesia Timur tidak lama berselang sesudah pendudukan tentara Jepang di Manado, Jepang menduduki Palu dan memerintahkan penutupan perguruan Alkhiraat yang berlangsung selama pendudukan Jepang terhadap Indonesia yaitu 3,5 Tahun.
Selama pendudukan Jepang, Said Idrus tidak berpangku tangan dan menyerah begitu saja tetapi proses belajar mengajar tetap berlangsung secara rahasia dan sembunyi-sembunyi pada malam hari dengan memakai penerangan pelita dan siswanya datang satu persatu yang berlangsung di rumah beliau yang lokasinya berjarak sekitar 1500 meter dari lokasi perguruan Alkhairaat.
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945, Indonesia masih saja dikuasai oleh tentara NICA termasuk daerah Sulawesi Tengah pada masa ini banyak tokoh-tokoh Alkhairaat terlibat dalam pergerakan kemerdekaan baik secara terang-terangan maupun bekerja di bawah tanah dalam rangka gerakan gerilya kilat untuk mematahkan pergerakan tentara NICA.
Pada tahun 1950 keadaan keamanan di daerah sulawesi tidak stabil, karena gangguan keamanan dari gerombolan Kahar Muzakar yang daerah operasinya meliputi lembah Palu. Pada tanggal 6 Mei 1950 Alkhairaat mengeluarkan maklumat yang isinya menentang setiap ancaman yang merongrong pemerintah Republik Indonesia yang sah yang saat itu berpusat di Yogyakarta. (Sayyid Idrus bin Salim al-jufri pendiri alkhairaat kontribusi nya dalam pembinaan umat, 2014 Masehi)
Oleh karena sikap dan ucapan si Fuad Plered yang belum menunjukan tanda – tanda berhenti, malah semakin menjadi – jadi dan menunjukan sikap arogan dan sombong, maka kami Pengurus Pusat Ikatan Alumni Abna Alkhairaat dengan ini menyatakan :
1. Mengutuk keras penghinaan dan pelecehan terhadap guru tua/ Sayyid Idrus bin Salim Aljufri yang dilakukan oleh si Fuad plered.
2. Menuntut pihak kepolisian untuk segera menangkap si Fuad Plered untuk mempertanggungjawabkan kejahatannya.
3. Mengultimatum si Fuad Plered agar segera berhenti dari ucapan – ucapannya yqng menghina dan melecehkan Guru Tua dan Alkhairaat.
APABILA HAL INI TIDAK DI HENTIKAN, MAKA KAMI ABNA ALKHAIRAAT AKAN MENYIAPKAN LUBANG KUBURNYA DI KOTA PALU.
Ketua PP IKAAL
Abdul Haris Abdullah
(Guru dan Kepala Madrasah Diniyah Awwaliyah Alkhairaat kelurahan Tatura selatan)






