Anwar Hafid: Pidato Rasulullah di Madinah Fondasi Bangun Peradaban Dunia

oleh -
oleh
IMG 20260220 WA0117
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyampaikan khutbah Jumat yang sarat pesan peradaban di Masjid Raya Baitul Khairaat, Jumat (20/02/2026). FOTO : WARTASULAWESI.COM

PALU, WARTASULAWESI.COM – Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menyampaikan khutbah Jumat yang sarat pesan peradaban di Masjid Raya Baitul Khairaat, Jumat (20/02/2026).

Dalam khutbahnya, Anwar Hafid mengajak jamaah untuk terus meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya secara sungguh-sungguh.

Anwar Hafid mengulas salah satu pidato Rasulullah SAW saat tiba di Madinah yang menurutnya menjadi fondasi dasar dalam membangun peradaban Islam hingga mampu menguasai dunia.

Saat itu, Rasulullah disambut oleh seluruh penduduk Madinah, baik Muslim, Nasrani maupun Yahudi, dan menyampaikan pidato yang isinya tetap relevan hingga kehidupan modern saat ini.

Mengutip sabda Rasulullah, ia menyampaikan pesan “Ya ayyuhannas, afsus salam, wa ath’imut tha’am…” yang berarti wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam dan berilah makan.

Menurut Anwar Hafid, setidaknya ada empat fondasi membangun peradaban agar kokoh, langgeng dan abadi.

Pertama adalah afsus salam, yakni menjadi penebar keselamatan. Ia menegaskan bahwa jika ingin kehidupan harmonis, maka setiap orang harus menjadi sumber keselamatan bagi orang lain, bukan sebaliknya menjadi penyebab keresahan dan malapetaka.

“Kalau semua kita berusaha melalui lisan, tindakan dan kebijakan menjadi penyelamat bagi umat manusia, maka akan tercipta keharmonisan di tengah kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Ia menyoroti tantangan era digital, di mana bukan hanya lisan, tetapi juga jari-jari di media sosial dapat menjadi sumber kebaikan atau justru malapetaka. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan diri sebagai rahmat bagi seluruh alam.

“Umat Islam dikenal sebagai rahmatan lil alamin. Bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada alam dan seluruh makhluk,” katanya.

Fondasi kedua, lanjutnya, adalah wa ath’imut tha’am atau memberi makan. Menurutnya, ajaran ini merupakan bentuk kepedulian sosial yang sangat tinggi dalam Islam.

Ia mengingatkan bahwa memberi makan, terlebih kepada orang yang berpuasa, memiliki pahala besar sebagaimana disabdakan Rasulullah. Semangat berbagi, kata dia, harus menjadi karakter umat Islam agar tidak ada lagi saudara yang kesulitan makan.

“Kalau saja umat Islam menyadari bahwa berbagi itu amalan yang sangat tinggi, hampir tidak ada saudara kita yang tidak bisa makan tiga kali sehari,” ucapnya.

Anwar Hafid juga menyinggung program makan bergizi gratis yang kini menjangkau jutaan penerima manfaat setiap hari. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak tinggal diam dan ikut berkontribusi dalam menguatkan solidaritas sosial.

Khutbah tersebut disambut khidmat oleh jamaah yang memenuhi Masjid Raya Baitul Khairaat, dengan pesan kuat bahwa membangun peradaban tidak hanya dengan pembangunan fisik, tetapi juga dengan nilai keselamatan, kedamaian dan kepedulian sosial. ***